Senin, 28 April 2008

Ada Kehidupan di Bawah Kabel Besar

Medan magnet berfrekuensi rendah akan menimbulkan lingkaran arus listrik dalam tubuh manusia.

JAKARTA -- Medan magnet berfrekuensi rendah akan menimbulkan lingkaran arus listrik dalam tubuh manusia. Besarnya arus listrik yang ditimbulkan akan sangat bergantung pada kuatnya medan magnet yang ada, dan jika terlalu besar, arus listrik itu dapat menimbulkan rangsangan pada sistem saraf dan otot.

Mulanya mungkin sistem penglihatan. Tapi semakin besar induksi arus listrik itu bisa berbahaya bagi jaringan hingga akhirnya akut, seperti ekstrasistol dan ventrikuler jantung yang tergetar. Itu sebabnya, bagi sebagian masyarakat, saluran udara tegangan ekstratinggi (SUTET) adalah momok.

Jaringan listrik itu memang mampu membangkitkan medan listrik dan medan magnet. Desis konduktornya, rambut yang berdiri pada bagian badan tertentu ketika berada di dekatnya, atau mungkin lampu neon dan test-pen yang menyala redup adalah bukti adanya paparan atau pajanan medan elektromagnet itu.

Sekarang problemnya, apakah SUTET, yang menjadi bagian dari sistem transmisi listrik sejauh lebih dari 2.300 kilometer milik PT Perusahaan Listrik Negara, benar bisa sebahaya di atas? "Dari penelitian yang kami lakukan sepuluh tahun lalu, tidak," kata Corrie Wawolumaya dari Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di sela-sela "Diskusi Panel tentang Permasalahan Penggunaan SUTET dalam Sistem Ketenagalistrikan di Indonesia" di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi kemarin.

Corrie menjelaskan, dalam penelitian pada 1996, dia melakukan sistem zonasi permukiman di bawah dan sekitar lokasi jalur hingga jarak lebih dari 30 meter. Corrie dan timnya mengkaji mulai pengaruh terhadap sel, jaringan, sampai kelompok manusia. Hasilnya, menurut Corrie, tidak ditemukan hubungan antara kanker leukemia yang diderita anak-anak dan SUTET seperti yang ditakutkan. "Kami memang akan meng-update hasil itu, tapi sampai saat ini kesimpulannya (SUTET) tidak berbahaya," katanya.

Dari pengukuran pajanan medan listrik dan medan magnetnya, Tumiran, Ketua Departemen Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, dan koleganya asal Institut Teknologi Bandung, Bambang Anggoro, mendukung kesimpulan Corrie. Tumiran mengungkapkan hasil penelitiannya di Nganjuk, Jawa Timur, dan Ungaran, Jawa Tengah, sedangkan Bambang menyatakan pernah mengukur di sepanjang jaringan transmisi dan distribusi listrik PLN Sumedang-Cirebon, Jawa Barat.

Keduanya menemukan angka pajanan medan listrik dan magnet tepat di bawah kabel SUTET yang jauh di bawah ambang batas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan, masing-masing pajanannya tidak boleh melebihi 5 kiloVolt per meter dan 0,1 miliTesla khusus untuk permukiman. "Di dalam rumah saya bahkan menemukan ukuran yang jauh lebih kecil, 0,3 kV per meter," kata Bambang.

Sedangkan untuk pajanan medan magnet, Tumiran justru berani mengabaikannya. Dia, yang melakukan penelitian pada 1997, menemukan data hanya 3-4 mikroTesla.

Rumah atau bangunan di bawah jalur SUTET memang bermuatan listrik karena pajanan elektromagnet. Tapi itu tidak akan menjadi masalah karena akan terbuang ke bumi atau tanah (grounded). "Sebenarnya lebih berbahaya bagi keluarga menonton televisi terlalu dekat ketimbang tinggal di bawah SUTET," katanya.

Bambang dan Tumiran tampaknya sepakat kalau SUTET tak lebih dari sekadar kabel besar yang melintas di atas kepala. "Karena itu, cemas menjadi wajar," tutur Corrie.

Sumber: http://korantempo.com/korantempo/2006/02/15/
Ilmu_dan_Teknologi/krn,20060215,52.id.html

Tidak ada komentar: